Rabu, 15 Oktober 2014

Strategi Ampuh untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan Filed in: Artikel HR Management


Apakah anda merasa sukses hari ini dengan bisnis anda, ataukah anda merasa masih belum puas dengan apa yang anda kembangkan saat ini?
Sebuah perusahaan akan lebih berkembang bila memiliki karyawan yang professional, terampil, dan memiliki etos kerja tinggi. Kadang menjadi seorang pimpinan kita harus bisa meningkatkan ketrampilan karyawan agar apa yang kita harapkan dalam perusahaan bisa tercapai.
Saya yakin tak sulit bagi anda untuk mengubah karyawan dalam sekejab sekalipun anda memiliki karyawan yang jumlahnya tidak sedikit.
Anda memiliki karyawan yang terampil namun anda juga harus mengimbangi mereka dengan ide-ide cemerlang untuk mengembangkan perusahaan. Apakah mungkin anda memiliki karyawan yang professional dan terampil sedangkan pimpinannya tidak memiliki inovasi sama sekali dalam perusahaan?
Meningkatkan ketrampilan karyawan menjadi salah satu cara mudah untuk mendongkrak usaha anda. Bayangkan saja jika anda memiliki sebuah toko mainan misalnya, kemudian karyawan anda terampil dalam berjualan, mungkinkah anda bisa mendapatkan omset jutaan bahkan puluhan juta dalam sebulan? Jelas mungkin, saya jawab itu sangat mungkin dan tidak mustahil.
Jika karyawan anda terampil berjualan, anda yang akan mendapatkan banyak keuntungan. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang pimpinan untuk meningkatkan ketrampilan karyawan.
Andaikan saya memiliki banyak perusahaan, saya akan memilih karyawan yang siap kerja, terampil dan professional. Saya tidak akan pusing dan repot mencari trainer untuk melatih mereka. Namun, sulit bagi kita mencari karyawan yang seperti itu, alhasil sebagai pimpinan anda harus melatih mereka untuk terampil dan professional.
Anda yang memiliki banyak karyawan namun mereka tidak memiliki ketrampilan sama sekali, buat apa mereka? Namun anda yang memiliki sedikit karyawan tapi berprestasi dan memiliki ketrampilan yang luar biasa, mana yang anda pilih?

Jika anda ingin memiliki karyawan yang terampil, mulai sekarang ubah mereka dan tingkatkan kemampuan mereka. Untuk meningkatkan ketrampilan karyawan, silahkan anda memilih beberapa cara berikut ini:
Siapa karyawan anda
Apakah anda mengenal semua karyawan dalam perusahaan? Jika anda ingin meningkatkan ketrampilan mereka, kenalilah mereka dan lihatlah kemampuan masing-masing karyawan anda.
Catat dalam buku anda apa dan bagaimana kemampuan karyawan anda, sudah cocokkah mereka dengan pekerjaan yang anda berikan? Dari penilaian dan pengamatan tersebut, anda bisa mengetahui potensi setiap karyawan sehingga bisa memberikan arahan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mereka.
• Beri kesempatan karyawan untuk berkreasi
Banyak karyawan yang sebenarnya memiliki potensi dan kemampuan yang lebih, namun mereka kadang takut untuk mengembangkan ketrampilan.
Mereka takut jika atasan menolak hasil karyanya, atau takut pada seniornya. Sebagai pemimpin, berikan kesempatan pada semua karyawan untuk berkreasi dan mengembangkan ketrampilan mereka. Seandainya anda tidak menyukai hasil karya mereka, jangan langsung menolaknya. Beri masukan pada karyawan agar memperbaiki hasil karyanya dan berikan saran yang lebih baik.
• Pelatihan
Untuk meningkatkan ketrampilan karyawan anda bisa memberikan pelatihan dengan bantuan trainer atau anda sendiri. Pelatihan ini berfungsi untuk meningkatkan kinerja karyawan dan memberikan ketrampilan pada mereka terutama pada karyawan yang masih baru.Pilihlah metode pelatihan yang efektif agar karyawan bisa menguasai materi dengan baik.
• Beri reward pada karyawan
Setelah karyawan mendapatkan pelatihan, berikan mereka reward untuk keberhasilannya. Dengan memberikan penghargaan pada mereka, mereka akan lebih meningkatkan ketrampilannya dan bersemangat dalam bekerja.
  • Berikan fasilitas pada karyawan
    Saat mereka sukses dan berkarya, berikan fasilitas pada mereka agar mereka lebih berkreasi dan mau meningkatkan ketrampilannya seperti kenaikan gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya.



Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering menjumpai orang-orang tertentu yang sulit dihadapi. Orang- orang jenis ini juga ada di kantor kita dalam berbagai variasinya. Ada tipe orang yang tak pernah berhenti bicara dan kalau sudah bicara tak bisa disela atau pun susah distop, dan orang macam ini umumnya tak mau mendengar. Ada tipe lain lagi yang selalu punya kata untuk mengomentari orang lain, atau yang lebih parah lagi suka mengkritik pekerjaan temannya, yang bukan bagiannya dan dia sendiri tidak pernah sadar akan kewajibannya serta kesalahannya. Kita juga menjumpai adanya orang-orang yang tak bisa menjaga komitmen.
Diantara orang-orang seperti itu ada yang diam-diam maupun terang-terangan menempatkan diri sebagai pesaing Anda, misalnya dalam meraih simpati dan opini positif dari atasan. Sebagian yang lain lagi mungkin ada yang berusaha menjatuhkan Anda sehingga memaksa Anda untuk selalu merasa seolah-olah Anda perlu balik mengawasi dia. Orang-orang tertentu ditempat kerja Anda mungkin juga membentuk ‘geng’ tanpa memasukkan Anda menjadi anggotanya, sehingga Anda menjadi merasa tersisih.
Begitulah, orang-orang yang sulit semacam itu, yang pada gilirannya membuat kita juga berada dalam situasi yang sulit, ada dalam setiap lingkungan kerja. Kita harus menyadarinya. Tak peduli jenis situasi sulit seperti apa yang kita temukan, orang atau situasi yang sulit tak mungkin kita hindari. Kita harus menghadapinya. Mengapa demikian –mengapa tak kita diamkan saja?
Menurut kolumnis masalah SDM Susan M Heathfield, bila kita mendiamkan saja orang-orang yang sulit seperti itu, situasi tidak akan berubah dengan sendirinya, dan biasanya akan makin buruk. Cuek, atau pura-pura tidak tahu hanya akan memperbaiki situasi di permukaan, namun sebenarnya justru menunda konflik yang kelak bisa meledak menjadi sesuatu yang bersifat kontraproduktif.
Pada dasarnya, orang berada dalam situasi “shock” ketika mereka diperlakukan secara tidak profesional. Jika Anda menghadapi situasi seperti itu, cobalah renungkan dan pahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sekali Anda telah menyadari apa yang sedang terjadi, membiarkan diri berlama-lama berada dalam situasi sulit bukanlah pilihan yang tepat. Jangan sampai situasinya menjadi semakin tidak rasional sehingga membuat Anda marah dan sakit hati. Susan mengingatkan, alangkah jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit selagi kita masih bisa bersikap objektif dan mengendalikan emosi.
Lebih penting lagi, membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan di tempat kerja, bukan hanya akan membuat Anda disalahkan karena dinilai “tidak becus menghadapi situasi layaknya seorang profesional dewasa”. Lebih dari itu, salah-salah Anda bahkan bisa dicap sebagai “orang sulit” juga. Sekalinya Anda dicap begitu, maka sulit untuk menghapusnya dan berdampak buruk terhadap perkembangan karir Anda ke depan.
Jadi, ketimbang situasinya menjadi terbalik, lebih baik Anda hadapi orang yang sulit di lingkungan kerja Anda sejak dini. Susan memberikan cara yang produktif untuk menghadapi mereka:
1. Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri. Yakinkah Anda bahwa masalahnya adalah orang lain, dan bukan Anda sendiri saja yang overacting?
2. Diskusikan apa yang sedang Anda alami dengan teman atau kolega yang terpecaya.
3. Dekati orang yang Anda anggap sumber masalah tersebut untuk diajak bicara dari hari ke hati.
4. Tindak lanjuti pembicaran empat mata itu: apakah ada perubahan sikap? Apakah lebih baik? Atau, lebih buruk? Perlukah dilakukan pembicaraan lanjutan?
5. Hadapkan orang yang sulit itu ke publik. Misalnya, sindir dia dengan humor yang halus sampai yang agak kasar.
Jika kelima cara di atas tidak berhasil dengan baik, lakukan langkah berikut:
1. Libatkan pihak lain. Termasuk, bicarakan dengan atasan. Catatlah bahwa masalahnya bukan lagi sebatas antarpribadi melainkan sudah menyangkut profesionalitas dan produktivitas kerja Anda yang terganggu. Blak-blalan saja pada bos, betapa sulitnya menghadapi orang tersebut.
2. Kerja sama dengan karyawan lain yang punya masalah yang sama dengan orang tersebut. Tapi, hati-hati dengan pendekatan ini. Ingat selalu bahwa Anda ingin menyelesaikan masalah, dan bukannya sedang menggalang sekutu untuk menjatuhkan orang lain
3. Jika pendekatan tersebut gagal membuahkan hasil yang menggembirakan, cobalah batasi akses orang yang sulit tersebut terhadap diri Anda.
4. Pindah ke divisi/group lain. Tentu saja ini tergantung besar-kecilnya perusahaan tempat kerja Anda, tapi yang jelas Anda tak bisa lagi bekerja dengan orang yang sulit itu. Jadi, pindah bagian adalah pilihan mutlak.
5. Bila hal itu tidak mungkin, cabut saja dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sebab, Anda bukan orang yang sulit mencari kerjaan ditempat lain. (Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar